Tuesday, December 30, 2014

Ekspor Ikan Pindang dan Patin Targetkan AS dan Eropa
 Siapa yang tak kenal ikan sari pati patin dan pindang yang termasuk dalam hasil laut Indonesia ya Ekspor Ikan Pindang dan Patin Targetkan AS dan Eropa
Ikan Indonesia
Siapa yang tak kenal ikan sari pati patin dan pindang yang termasuk dalam hasil laut Indonesia yang cukup populer dan berperan penting dalam perekonomian karena konsumsi dalam negeri akan ikan sari pati patin dan pindang semakin lama semakin meningkat.

Dan saat ini pihak Kementrian Kelautan dan Perikanan akan berusaha untuk menembus market hingga ke luar negeri terutama sekali ke Amerika Serikat dan juga market Eropa. Sebagai info, selama ini cuma ada 3 jenis ikan yang terus diusahakan oleh pemerintah kita untuk dapat menembus market luar, yakni ikan pindang, sari pati patin, dan juga ikan bandeng. Di lain pihak, di wilaya Sumatera Utara juga terkandung jenis ikan teri yang dekat disebut teri Medan yang sudah dilirik untu dapat digenjot juga hingga dimarketkan ke mancanegara. Dan sebahagian sudah diekspor ke berbagai macam negara tetangga.

Seperti yang diutarakan Saud Hutagulung dari pihak Dirjen Pengolahan serta Pemasaran Hasil Perikanan mengatakankan bahwasanya negara yang menjadi target pemasaran adalah China, Jepang, Amerika Serikat, dan juga Uni Eropa.

Ia mengatakankan "Tujuan utama pemasaran bandeng adalah Amerika Serikat, dan target lainnya adalah Timur Tengah dan Afrika. Dan Tren market tampak terus meningkat", ungkapnya.

Dari sisi lain, pemerintah masihlah membatasi bahwasanya hasil ikan yang akan diekspor cuma sebesar 30% saja dari total produksi selama satu tahun. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan konsumsi dalam negeri tetap menjadi prioritas yang dalam hal ini terletak diangka 70%.

Pemerintah juga tak tanggung-tanggung dalam mewujudkan masyarakat yang gemar makan ikan, terbukti dari anggaran sebesar Rp. 600 juta yang diputuskan oleh pemerintah dalam rangka penyediaan ratusan cold storage yang diperuntukkan kepada industri pengolahan ikan di berbagai macam wilayah.

Wednesday, December 17, 2014

Daging Harga Rp.60 Ribu/Kg Diobral Oleh Tomy Winata

Saat ini penjualan daging murah yang dikelola oleh Artha Graha Peduli telah memasuki hari yang ke-12. Dan lagi - lagi Tomy Winata sebagai pemimpin Artha Graha Peduli mengomando jajarannya supaya menurunkan lagi harga daging yang sedang dijual.

Dua minggu lalu harga daging yang mereka juga terletak di harga Rp. 70 ribu per kilogramnya, dan sejumlah hari lalu diturunkan pada harga Rp. 65 ribu per kilogramnya. Dan akhirnya kemarin harga daing sapi yang mereja jual kembali diturunkan lagi menjadi Rp. 60 ribu perkilogramnya.

Taktik Tomy Winata yang melaksanakan penurunan harga daging berulang - ulang seperti itu bersasaran untuk merangsang market daging supaya harga daing dapat berangsur turun di harga yang lebih murah supaya lebih terjangkau oleh masyarakat.

"Di H-7 mendekati Idul Fitri kita sengaja kembali menurunkan harga daging sapi di Rp. 60 ribu per kilogramnya dengan harapan supaya lebih banyak masyarakat yang bisa membeli daging dengan harga lebih murah sekaligus merangsang harga marketan supaya bisa turun ke harga yang lebih wajar lagi," Kata Tomy Winata sesuai dengan keterangan yang ia tulis para Jum'at lalu.

Ia kembali menambahkan, jika kita hitung dengan nilai tukar rupiah, umpama nilai tukar rupiah ada di angka Rp. 11 ribu, berarti harga daging tertinggi adalah Rp. 65 ribu per kilogramnya. "Diharapkan semua pihak rela untuk meminimalisir sedikit saja dari labanya, sehingga masyarakat bisa lebih menjangkau harga daging di marketan," katanya.

Di lain pihak Anas Latief sebagai ketua pelaksana yang mengadakan market sembako serta daging murah di Jabodetabek ngasih penjelasan bahwasanya aktivitas tersebut terselenggara berkat kerja sama sejumlah pihak termasuk Putera Sampoerna, Sinarmas, dan juga Indomilk.

Di hari ke-13 dari pelaksanaan market sembako dan daging murah tersebut, dibuka kembali sejumlah market sembako murah di sejumlah tempat, antara lain di Cikeas, Duta Merlin, Kawasan Kantor TV One, Kantor PWI, Ancol, Cilangkap, Kelapa Gading, Gunung Sahari dan Pondok Cabe. Dan termasuk sejumlah lokasi di luar kota, yakni Medan, Pontianak, Makassar, Ambon, Manado, Watampone, Bangka, Kendari, Lampung, Tual, dan Banten.

"Semakin mendekati hari H lebaran, pembelian daging oleh masyarakat pun semakin meningkat. Penjualan daging murah oleh Artha Graha rencananya akan terus digelar sampai mendekati Idul Fitri, " kata Tomy.

Thursday, December 11, 2014

Benarkah Daging Sapi Impor Asal Australia Memicu Kanker?
 Isu yang belakangan ini muncul menyangkut daging sapi impor yang berasal dari Australia yan Benarkah Daging Sapi Impor Asal Australia Memicu Kanker?

Isu yang belakangan ini muncul menyangkut daging sapi impor yang berasal dari Australia yang dikabarkan mengandung sejenis hormon penggemuk yang mempunyai efek samping menimbulkan kanker pada manusia akan diteliti lebih jauh oleh Kementrian Pertanian (Kementan). Kementan sendiri telah menyatakan akan secara langsung mengadakan penelitian di laboratorium.

Suswono sebagai Menteri Pertanian di saat kunjungannya ke Pasar Angso Duo, Jambi di hari Sabtu kemaren menghimbau supaya berbagai macam pihak tak menyebarkan isu negatif yang dapat meresahkan penduduk terkait dengan adanya isu daging sapi yang diimpor bulog tersebut dapat membawa penyakit.

"Hal ini akan diteliti lebih jauh. Memang kita mesti berhati - hati untuk menyatakan benar atau taknya isu bahwasanya daging tersebut mengakibatkan penyakit. Pihak kita sendiri akan melihat lebih dalam lebih dalam dan tak akan gegagah dalam membikin pernyataan. Karena kita mempunyai sejumlah ahli untuk melihat lebih dalam menyangkut hal ini," kata beliau.

YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) yang sejumlah hari lalu sempat ngasih penilaian terhadap daging sapi asal Australia tersebut yang disinyalir kurang sehat. YLKI mengatakankan bahwasanya daging sapi tersebut mengandung hormon yang dipergunakan dalam suatu sistem untuk menggemukkan sapi.

Tulus Abadi, salah satu pejabat di YLKI menambahkan bahwasanya hingga saat ini di Australia masihlah diperbolehkan mempergunakan sejenis hormon untuk menggemukkan sapi. Hormon sejenis juga pernah ada di Indonesia, namun sudah dilarang semenjak tahun 1988 silam.

"Hormon buatan yang dipergunakan untuk menggemukkan sapi itu berpotensi menimbulkan kanker (karsinogenik) yang berbahaya dan sudah berlangsung di Amerik Serikat. Di sana, sebahagian anak - anak terjangkit kanker tersebut diakibatkan mengkonmsumsi daging sapi yang rupanya digemukkan dengan hormon buatan itu," katanya.

Dan rencana pemerintah untuk memenuhi kebutuhan daging sapi selama bulan puasa dan hari raya tahun ini, telah diputuskan untuk mengimpor sebanyak 25.000 buntut sapi asal Australia. Rencananya untuk tahap awal di akhir Juli ini akan tiba 13 ribu sapi asal Australia.

Tanggapan positif terhadap hasil pernyataan YLKI juga disampaikan Mentan Suswowo. Beliau dengan tegas menyatakan jikalau memanglah yang disampaikan YLKI benar, maka pemerintah akan dengan tegas menolak sapi - sapi asal Australia tersebut.

Meskipun demikian, Suswono juga menerangkan bahwasanya sebenarnya hormon penggemuk yang diberikan ke Sapi itu tak menimbulkan masalah serius, karena menurut pertimbangan sejumlah ahli ilmiah menerangkan bahwasanya hormon tersebut akan hilang dengan sendirinya pada jangka waktu tertentu saja.

Selang sehari sebelumnya, Suswono juga sempat singgah ke Pasar Ternak Muara Bualin, Kabupaten Batang Hari, dan juga ke PTPN VI Jambi dalm rangka melihat secara langsung unit usaha gabungan sapi-sawit yang diaplikasikan di wilayah tersebut.

Friday, December 5, 2014

Jawa Barat Dijatah 900 Ton Daging Sapi Impor

Akhirnya Provinsi Jawa Barat mendapatkan jatah daging sapi impor sebanyak 900 ton yang sudah mulai di distribusikan seperti yang tampak di halaman - halaman "Gedung Sate" yang bersamaan dengan dilaksanakannya Bazar Murah Ramadhan.

Ferry Sofwan sebagai pejabat di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mengatakankan bahwasanya di Jawa Barat telah disiapkan 1 Ton Daging Sapi yang pada awalnya diperkirakan akan mencapai 2 ton. Dan ia mengatakankan bahwasanya hal ini masihlah tahap awal yang untuk selanjutnya akan diteruskan di sejumlah daerah lain.

Dari total 900 ton daging sapi impor tersebut, khusus Kota Bandung sendiri dijatah antara 5 - 10 ton yang pada hari ini masihlah sebahagian saja yang sudah di distribusikan lewat market murah.

Tidak cuma sampai di situ,supaya pembagi jatah daging sapi impor ini merata, maka setiap pembeli diberi batasan cuma 2 kilogram saja dari tiga jenis daging impor yang sedang dijual di marketan. Adapun perbedaan harga dari tiga jenis daging impor tersebut adalah mulai dari Rp. 70 ribu, Rp. 80 ribu, dan Rp. 90 ribu. Namun siapa pun diperbolehkan memilih jenis daging yang mana saja.

Di lain pihak kepada Divisi Regional Bulog, Usep Karyana sempat menyampaikan bahwasanya setiap kota dan juga kabupaten yang ada di Jawa diperbolehkan untuk mengusulkan pengadaan operasi market murah khusus daging sapi impor. Namun belum ada pengajuan satu pun sampai pada hari ini.

Sedangkan di acara Bazar yang di Gelar di Gedung Sate tak cuma mendistribusikan daging sapi saja, melainkan tersedia juga berbagai macam macam kebutuhan masyarakat mulai dari bahan pokok makanan, pakaian, dan juga kebutuhan lainnya.

Disampaikan juga kepada masyarakat bahwasanya siapa pun boleh tiba untuk berbelanja di Gedung Sate, namun karena memanglah areanya di Gedung Sate mayoritas yang berbelanja saat ini masihlah dari golongan PNS yang ada di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Tuesday, December 2, 2014

Kuota Daging Sapi Impor Ditambah Oleh Pemerintah

Dalam rangka menstabilkan harga daging sapi potong di marketan di kisaran Rp. 75.000 - Rp. 80.000 per kilogrammnya, pemerintah berencana menaikkan kuota impor daging sapi tersebut. Kuota impor yang ditambahkan ini lain dari tambahan sebanyak 3000 ton daging sapi oleh Perum Bulog.

Hatta Rajasa selalu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwasanya tingkat request akan jumlah daging sapi masihlah terus saja meningkat walaupunpun Perum Bulog telah mengimpor sejumlah 3000 ton. Maka untuk menangani hal ini, pemerintah akan menaikkan kuota impor untuk memenuhi pasokan daging sapi.

Kembali ditegaskan oleh beliau bahwasanya kebijakan ini terpaksa dilaksanakan untuk menjaga supaya harga daging sapi tetap stabil dimarketan sesuai harga yang kita harapkan yakni berkisar antara Rp. 75.000 - Rp. 80.000 per kilogrammnya. Dan kebijakan penambahan kuota impor daging sapi ini rencananya akan mulai dilaksanakan pada akhir bulan ini untuk memenuhi tuntutan market.

Beliau juga menyampaikan bahwasanya realisasi penambahan impor daging sapi ini mesti sudah masuk ke market lokal sebelum hari raya idul fitri. Bahkan beliau menghimbau supaya menteri perdagangan dan menteri pertanian mesti bekerja sama dalam satu atap supaya proses pemenuhan kebutuhan di market mendekati lebaran dapat terpenuhi dengan cepat.

Di lain pihak, Gita Wirjawan sebagai Menteri Perdagangan RI mengungkapkan bahwasanya di babak pertama kali penambahan kuota impor daging akan mulai masuk di akhir bulan Juli ini. Besarnya penambahan kuota impor daging sapi akan diputuskan dalam kesepatakan bersama antara dua kementrian, yakni kementrian perdagangan dan kementrian pertanian. (cm)

Sumber : http://ekon.go.id/berita/view/pemerintah-tambah-kuota-impor.312.html



Dilema Daging Sapi Indonesia

Seperti yang telah kita ketahui di media-media Indonesia, harga daging sapi di berbagai macam daerah merangkak naik. Pemerintah telah melaksanakan sejumlah kali rapat namun harga sepertinya tak goyah juga. Semua rakyat berharap jika harga daging bisa segera turun kembali. Solusi dari pemerintah untuk mentibakan daging import dari luar untuk menurunkan harga dianggap solusi yang paling baik.

Penolakan Para Pedagang Sapi
Daging sapi beku import saat ini baru masuk ke tanah air sejumlah 16 ton dari total 800 ton yang tiba via udara, dan kita harapkan sejumlah 2.200 ton lainnya akan tiba melalui jalur laut pada sejumlah hari selanjutnya. Namun nyatanya kenyataan di lapangan tidaklah sama dengan yang kita harapkan oleh pemerintah. Para trader menolak menjual daging beku ini karena menurut mereka, daging import ini akan merusak harga market. 

Tentu saja hal ini berperihalan dengan misi Bulog yang memanglah diberikan mandat oleh pemerintah untuk menurunkan harga. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yang sebelumnya merasa optimis daging sapi akan diterima oleh market, mengaku cukup kaget dengan reaksi tersebut. Dan beliau mengatakankan bila Bulog akan terus berusaha mencari market-market yang lain mau bekerja sama.

Alasan dari para trader sapi pun berubah-rubah. Dari mulai daging sapi beku itu susah untuk mereka simpan mengingat daging sapi beku akan gampang leleh dan rusak bila terkena udara langsung, juga menurut mereka mutu daging sapi itu kurang baik. Menurut mereka daging sapi beku tersebut mempunyai lemak yang lebih banyak dibanding daging sapi yang mereka miliki. Para trader sapi mengaku bila mereka telah membeli daging-daging dengan harga yang mahal untuk dijual, ketika daging-daging import ini masuk ke market, bagaimana dengan nasib daging mereka yang mahal?

Lain alasan trader, lain pula alasan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Mereka juga beralasan bila penjualan itu tak dikonsultasikan dulu dengan mereka. Bulog melaksanakan operasi market sendiri dengan mempergunakan nama Bulogmart. Tentu saja gebrakan dari bulog ini akan merugikan para trader. Semestinya menurut mereka, Bulog menjual daging tersebut dengan bekerja sama dengan mereka.

Tentu gerakan yang dilaksanakan oleh pemerintah ini kontradiksi dengan apa yang kita harapkan trader daging sapi yang notabene ingin mendapatkan laba sebesar-besarnya. Dan rupanya penolakan ini juga muncul di daerah di mana disejumlah daerah, trader melaksanakan demo terhadap operasi yang dilaksanakan pemda setempat.

Kebutuhan Rakyat Mendesak
Berlainan dengan para trader yang dilapangan secara terang-terangan menunjukan ketak sesasarannya terhadap daging murah yang disebar oleh pemerintah, rakyat sebagaimana layaknya konsumen justru mengharapkan daging sapi ini harganya turun kembali. Banyak dari penduduk sejumlah hari ini akhirnya mengalihkan konsumsi mereka dari daging sapi ke ikan karena tingginya harga daging sapi yang menembus harga Rp. 100.000. Tingginya harga daging sapi ini juga terasa di daerah-daerah, bahkan di Cirebon harga daging sapi mencapai Rp. 110.000!.

Pemprov DKI Jakarta melalui event UMKM Expo di taman IRTI Monas melempar daging bersubsidi dengan harga Rp. 80.000 dan tanpa dapat dikira, daging sapi ini langsung habis diserbu oleh masyarakat cuma dalam satu jam! Dari fakta yang ada tampak bila memanglah kebutuhan masyarakat terhadap daging sapi murah itu sangatlah tinggi dan berperihalan tentu sajanya dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan oleh para trader di atas.

Masyarakat yang membutuhkan daging sapi ini rupanya berasal dari berbagai macam lapisan. Bukan cuma penduduk miskin saja yang berharap akan daging sapi murah. Dari media-media kembali tampak bagaimana ahok dan sejumlah penduduk miskin merasa kesal karena rupanya daging sapi murah hasil dari operasi market rupanya banyak di borong oleh penduduk-penduduk yang mampu sehingga rakyat kecil sendiri tak kebagian.

Mendapatkan laba yang besar terutama sekali di waktu yang cuma berlangsung sekali dalam setahun tentu saja harapan dari semua trader. Namun seyogyanya, trader pun juga mesti memperhatikanlah kebutuhan rakyat yang saat ini membutuhkan. Memang benar alasan dari para trader bila tugas pemerintah yang mesti bisa menekan harga daging sapi distributor lokal supaya para trader bisa menjual murah. Namun tentu sajanya saling lempar kesalahan ini pada akhirnya cuma akan mengorbankan kepentingan orang banyak.

Seiring dengan tibanya 3000 ton daging sapi beku ke Indonesia ini, banyak orang berharap daging ini selain menguntungkan konsumen di Indonesia juga tak merugikan trader setempat. Tentunya perlu sinergi yang pas antara APPSI dan pemerintah sehingga masalah daging sapi ini tak menjadi permasalahan yang berkepanjangan. Kita tunggu saja bagaimana isu daging sapi ini bergulir kedepan. (nm)

Sumber: dari berbagai macam sumber