Monday, November 10, 2014

Berita Ekonomi : Pemerintah Gusar, Pencapaian Ekonomi Tahun Ini Jauh Dari Sasaran


 Namun persentase pencapaian ekonomi tersebut masihlah jauh lebih rendah bila diperbandingkan de Berita Ekonomi : Pemerintah Gusar, Pencapaian Ekonomi Tahun Ini Jauh Dari Sasaran
Berita Ekonomi - Indonesia diperkirakan akan merasakan pencapaian ekonomi mencapai 5,9 persen pada tahun ini. Namun persentase pencapaian ekonomi tersebut masihlah jauh lebih rendah bila diperbandingkan dengan yang kita harapkan pemerintah dalam asumsi dasar ekonomi makro di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) pada tahun 2013 yang ditargetkan sebesar 6,2 persen.

Seperti yang disebut oleh Enny Sri Hartati, perubahan koreksi perkembangan ekonomi ini diakibatkan oleh pemerintah yang akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang direncanakan bulan ini. Disebutkannya, ketika berlangsung kenaikan harga BBM maka akan menambah perkembangan ekonomi di kisaran 8 - 8,5 persen. Ini jauh dari asumsi pemerintah yang memperkirakan bisa mencapai 7,2 persen.

Dia juga mengatakankan, konsumsi rumah tangga adalah salah satu sumber perkembangan ekonomi Indonesia. Dimana jikalau berlangsung inflasi yang cukup tinggi, daya beli masyarakat akan berkurang yang mengakibatkan request konsumsi akan berkurang. "Pertumbuhan ekonomi akan menunjukan trend negatif karena didampaki oleh penurunan konsumsi ini," ujarnya 

Pada 2012 lalu perkembangan ekonomi Indonesia terletak pada level 6,23 persen, di mana 54,56 persen diwakili oleh komponen pengeluaran rumah tangga. Pembentukan modal tetap bruto sebesar 33,16 persen, impor 25,81 persen, ekspor 24,26 persen dan selebihnya sebesar 8,89 persen adalah konsumsi pemerintah.

Di sebutkannya juga bahwasanya belanja pemerintah tak mempunyai visi tetapi cuma berputar pada bantuan sosial dan tranfer. Sehingga membikin stimulus pergerakan ekonomi, terutama sekali yang bergerak di sektor riil, tak akan berlangsung. Ini mengakibatkan, tak optimalnya perkembangan sektor riil. "Itu juga akan memdampaki investasi. Pergerakan investasi kita tak akan optimal seperti yang kita harapkan dan itu akan berdampak negatif terhadap perekonomian kita," ujarnya

Lebih mendalam lagi, Enny mengatakankan, inflasi yang tinggi membikin defisit neraca perdagangan. Berdasarkan data, perdagangan Indonesia per Januari sampai April 2013 merasakan defisit mencapai 1,85 miliar dolar AS. Ini akan semakin bertambah jikalau pemerintah tak mengambil tindakan untuk menaikan harga BBM.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakankan, pada April 2013 neraca perdagangan mencapai total nilai 1,6 miliar dolar AS. Ini tersusun atas defisit migas sebesar 1,2 miliar dolar AS dan dari sektor nonmigas senilai 407,4 juta dolar AS. Menurutnya, berlangsungnya defisit ini diakibatkan oleh turunnya nilai ekspor yang diakibatkan harga dari sejumlah komoditi ekspor nonmigas belum membaik di market internasional.

Dilain tempat, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakankan, untuk RAPBN-P 2013 pemerintah telah mengusulkan perkembangan ekonomi sebesar 6,2 persen dengan inflasi yang diperkirakan 7,2 persen. Angka perkembangan ini telah dibahas di rapat dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat dan mendapatkan kesimpulan pemerintah akan mamatok harga perkembangan terletak pada 6,3 persen.

Menurutnya perkembangan dan inflasi yang telah dicanangkan itu telah menghitung akan dampak dari kenaikan harga BBM. Itu membikin pemerintah percaya perkembangan ekonomi Indonesia tak akan terletak pada posisi 6 persen ke bawah. Chatib mengatakankan terkait dengan penyambutan Pemilu 2014 mentiba akan memdampaki pergerakan kontribusi komponen pengeluaran rumah tangga.

0 komentar: