Wednesday, December 10, 2014

Delapan Pasar Tradisional di Jember Terancam Bangkrut


Kondisi delapan market tradisional di Jember sungguh memprihatinkan. Menurut catatan Dinas Pasar Pemkab Jember, setaknya ada delapan market tradisional yang terancam gulung tikar. Secara perlahan, jumlah trader di delapan market tersebut terus berkurang. 

Bahkan, ada market tradisional yang cuma dihuni seorang trader. Delapan Pasar tersebut melingkupi Pasar Tegal Boto di Jalan Nias. Hanya tinggal seorang trader yang tetap eksisi di market itu. Kemudian, Pasar tegalboto; Pasar Sukorejo; Pasar Tegal Besar: Pasar Petung, Kecamatan Bangsalsari pati; Pasar Sukosari pati, Kecamatan Sukowono; Pasar Menampu, Kecamatan Gumukmas; Pasar Patrang; dan Pasar Bungur Kecamatan Patrang.

Menurut Kepala Dinas Pasar Jember Hasi Madani, jumlah trader di delapan market tradisional tersebut menurun tajam. “Di Pasar Tegalboto, cuma tinggal satu trader,” Ungkap Hasi. Itu sungguh memprihatinkan. Sebab, Pasar tradisional sebelumnya menjadi pusat perdagangan penduduk sekitar.

Mantan kepala dinas pendidikan itu menambahkan, market sukorejo cuma dihuni sekitar 50 persen trader. Sementara itu, market Tegalbesar cuma tinggal 30 persen, Pasar Petung 25 persen, Pasar sukosari pati 40 persen, Pasar Menampu 50 persen, Pasar Patrang 50 persen, dan Pasar Bungur 50 persen. “Banyak market tradisional yang terancam tutup. Mereka kini hidup segan mati tak mau.” Tutur asi.

Jumlah trader di market tradisional terus berkurang karena jumlah pembeli juga berkurang. Banyak dagangan di market tradisional yang tak laku. Daripada terus merugi, banyak trader di market tradisional yang berpindah profesi atau berpindah berdagang ke tempat lain.

Dalam kurun tiga tahun terakhir, lanjut Hasi pendapat para trader di market Tradisional menurun drastis. “Memang tak ada penelitian resmi. Tetetapi berdasar survei yang kita laksanakan, para trader merasakan penurunan penghasilan,” paparnya.

Masih menurut Hasi, market tradisional yang terancam tersebut cuma merasakan pusingkatan pengunjung saat Ramadhan atau mendekati Lebaran. “Kalau hari biasa, kadang trader konveksi cuma laku 1-2 potong baju dengan untung Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu,” ujarnya.

Padahal, laba per potong baju diperkirakan cuma Rp. 5 ribu. Maka diperlukan langkah besar dari Pemkab Jember maupun trader untuk kembali menambah performa market tradisional. “Memang perlu ada upaya keras dari pemerintah untuk kembali menghidupkan market tradisional. Salah satunya merubah market tradisional yang terkesan kotor, kumuh, dan semrawut, menjadi market segar,”.

0 komentar: